Jumat, 10 Juni 2022

Zona 3 Main Course Misi 6 (Matrikulasi IIP Batch 10)

Tugas Misi 6 Zona 3 

"Karakter Moral Ibu Profesional"

Oleh Nur Khayati

Ibu Profesional Semarang

     


Alhamdulillah bini'matihi tatimush shalihat

Puji syukur kehadiran Allah SWT, Rabb semesta alam ini yang masih mengizinkan saya untuk menimba ilmu dalam kelas matrikulasi batch 10, hingga sudah mencapai tahap ini yaitu zona 3 di misi ke 6.

Zona 3 misi 6 kali ini dengan tema materi "Karakter Moral Ibu Profesional" yang disampaikan oleh Mbak Hamidah Rina Mantiri atau dikenal dengan Mbak Hamidah pada senin, 6 Juni 2022 pukul 20.00 live di FBG Matrikulasi Batch 10.

Ada lima karakter moral ibu profesional yaitu
  1. Never stop learning, the mission alive
  2. Don't teach me, I love to learn
  3. I know, I can be better
  4. Always on time
  5. Sharing is caring
 

Selanjutnya kami diberikan tugas misi 6 yaitu

1. 𝙈𝙤𝙧𝙖𝙡 𝙁𝙚𝙚𝙡𝙞𝙣𝙜𝙨: 

Setelah mengetahui 5 karakter moral Ibu Profesional, ceritakan perasaan anda tentang 5 karakter tersebut. Refleksikan pada diri anda, bagaimana karakter-karakter tersebut dalam diri dan kehidupan anda selama ini sebagai individu perempuan dan peran lainnya (seorang istri dan/atau ibu).


2. 𝙈𝙤𝙧𝙖𝙡 𝙖𝙘𝙩𝙞𝙤𝙣:

Setelah merefleksikannya, cari tahu karakter mana yang harus anda asah, kemudian pilih satu karakter yang akan anda tingkatkan di pekan ini. Ceritakan apa karakter yang anda latihkan, bagaimana anda melatihnya dan bagaimana perasaan anda setelah melatih karakter tersebut.

 

~ Moral Feeling ~

Setelah saya mendapatkan materi keenam tentang karakter moral ibu profesional yang saya rasakan awalnya seperti mendapatkan sengatan listrik secara perlahan. 

Ada letupan-letupan seperti api yang mengalir dalam diri saya. Sengatan yang membuat saya 'sadar'. Seolah dalam diri saya saling berkata "Hei..Nur, sudahkah karakter-karakter itu tertanam dalam dirimu?Hai..Nur, sadarlah perjalananan hidup didunia ini hanya sebentar, teruslah menjalankan misimu sebagai sebaik-baik hamba-Nya untuk mengumpulkan bekal perjalanan panjangmu kelak".   

Ada letupan semangat membara yang mengalir dalam diri saya. Mencoba untuk menyelami dan merefleksikan diri. Lantas salah satu dari sisi saya berkata "Teruslah memperbaiki diri Nur, dunia ini tempatmu berlelah-lelah, tempat istirahat kekal kelak di akhirat. Maka jadilah sebaik-baik manusia yang mampu bermanfaat untuk orang lain. Asahlah tiap karakter moral tersebut hingga terinternalisasi dalam diri".

 

Gambar : Moral Feeling

 

~ Moral Reflection ~

  1. "Never Stop Learning, the mission alive"

Dari karakter pertama ini, saya melihat kembali diri ketika saya dulu memutuskan berhenti bekerja di ranah publik dan sepenuhnya menjadi istri dan ibu yang bekerja di ranah domestik. Saya dulu berpikir ketika saya berhenti dari ranah publik maka saya akan berhenti belajar dan berkembang, seolah dunia saya hanya untuk suami dan anak. Tetapi pada realitanya saya terus belajar dan berkembang untuk menjalani peran saya yang baru menjadi seorang istri dan ibu yang bekerja di ranah domestik. Peran utama (sebagai istri dan ibu) yang tidak pernah saya tinggalkan seiring dengan diri saya menjalankan peran pendukung lainnya (bertumbuh dan berkembang). Kedua peran tersebut saya jalankan secara bersamaan hingga akhir hayat.

 

Gambar : Moral Reflection (karaktel moral 1)

  1. "Don't teach me, I Love to Learn"

Dari karakter moral kedua ini, saya sudah membawa karakter ini dalam diri saya. Menjaga fitrah saya sebagai seorang perempuan untuk senantiasa belajar kapanpun dan dimanapun berada. Bahkan sejak saya hamil anak pertama hingga sekarang sudah memiliki dua anak. Saya ambil contoh ketika proses melahirkan, meski sama-sama melahirkan tetapi saya mengalami proses belajar yang berbeda. Iya, saya belajar proses melahirkan secara alami dan sectio dari kedua anak saya. Begitu pula dengan mendidik keduanya, meski mereka terlahir dari rahim yang sama tetapi saya tidak bisa menyamakan cara mendidiknya sebab mereka memiliki karakter yang berbeda. Dari mereka maka saya belajar dan mempelajari hal baru  dalam menjalankan peran saya sebagai ibu. Maka dari itu saya tidak perlu dijejali berbagai ilmu tetapi justru saya harus menjaga fitrah diri saya untuk menyukai belajar. 

 

Gambar : Moral Reflection (karakter moral 2)

  1. "I know, I can be better"

Dari karakter moral ketiga ini menjadi salah satu karakter yang perlu saya latih dan saya asah kembali. Kenapa?Iya, selama ini mungkin apa yang sudah saya setiap hari kerjakan menjadi sebuah lingkaran yang 'biasa' atau  'otomatis' saya lakukan. Hingga saya terkadang tidak 'sadar' atau mindful dengan apa yang saya lakukan. Sebagai contoh bernafas. Iya selama ini saya bernafas, tetapi saya kadang tidak secara sadar menikmati proses bernafas saya, tidak sadar merasakan setiap tarikan dan hembusan nafasnya?

Hal ini membuat saya kurang mindfulness, merespon sesuatu dengan cepat, kurang mengelola emosi dan tidak melihat progress yang sudah dialami dalam diri saya. 

Gambar : Moral Reflection (Karakter moral 3)

  1. "Always On Time"

Dari karakter keempat ini, saya merasa sudah berusaha untuk melakukan pekerjaan saya dengan tepat waktu. Saya menyukai hal-hal yang teratur dan disiplin waktu. Saya juga memahami kandang waktu yang saya miliki, dimana waktu produktif saya selama 24 jam yaitu di pagi sampai siang hari. Tetapi saya merasa juga perlu melatih kembali karakter ini pada diri saya, bukan pada ketepatan waktunya tetapi pada proses management waktu produktif saya. Sehingga saya tidak lagi merasa kekurangan waktu setiap harinya. 

 

Gambar : Moral Reflection (karakter moral 4)

  1. "Sharing is Caring"

Dari karakter moral ini, saya melihat diri saya sudah memilikinya. Meskipun mungkin belum maksimal atau berdampak untuk orang banyak. Yang biasa saya lakukan yaitu membagikan aktivitas bermain dan belajar bersama anak saya melalui whatsapp story atau sosial media yang saya miliki. Selain itu saya juga mengajar TPQ untuk mengamalkan ilmu tahsin yang sudah saya ikuti. Tetapi saya melihat ada yang perlu saya tingkatkan yaitu lebih merutinkan kembali aktivitas "play and learn" anak usia dini dari pengalaman yang sudah saya lakukan bersama anak-anak di rumah.

 

Gambar : Moral Reflection (karakter moral 5)

~ Moral Action ~

Dari moral reflection yang sudah saya jelaskan diatas selanjutnya moral action yang saya asah dan latih adalah moral ketiga, empat dan lima. Namun, pekan ini saya fokuskan pada karakter ketiga yaitu "I know, I can be better". Selanjutnya secara bertahap mengasah karakter empat dan lima.

  • Mengapa saya memfokuskan pada karakter ke tiga "I know, I Can be better"?

Sebab saya ingin mengasah kesadaran saya melakukan setiap aktivitas dan peran saya sebagai seorang. Ketika saya sadar atau mindfull dengan apa yang saya lakukan, saya berharap dapat melakukan koneksi dengan anak-anak dan memenuhi tangki cinta mereka secara mindful dari hari-hari. 

Gambar : Karakter yang akan diasah

  • Bagaimana cara yang dapat saya melatih karakter tersebut?

pertama, menunda penggunaan gadget di pagi hari. Iya, saya menyadari salah satu hal yang membuat diri saya melakukan beberapa aktivitas kurang mindfull dikarenakan ada distraksi. Salah satunya adalah penggunaan gadget. Tak dipungkiri keberadaan gadget saat ini menjadi kebutuhan utama. Tetapi terkadang kehadirannya menjadi sebuah distraksi bagi saya dalam aktivitas dunia nyata. Dengan menunda penggunaan gadget di pagi hari setelah bangun tidur, saya berharap langsung dapat memenuhi kebutuhan rukhiyah diri saya sendiri dan segera menyelesaikan pekerjaan rumah saat subuh sudah siap membersamai anak-anak shalat subuh, dzikir pagi dan beraktivitas hadir penuh bersama mereka. Saya akan menyentuh gadget di pagi hari hanya untuk laporan ODOJ sebelum subuh.


Kedua, melakukan morning routine untuk diri saya pribadi dengan memberikan pemenuhan hak rukhiyah untuk diri saya yaitu sholat tahajud dan  tilawah satu juz sebelum subuh. Saya meyakini dengan saya mendekatkan diri dan memperbaiki hubungan saya lebih dahulu dengan Sang Pencipta maka koneksi yang tercipta antara saya dan anak-anak akan berlangsung baik. Seperti halnya tangki cinta, ketika tangki cinta sudah terisi full maka saya dapat mengalirkan cinta dalam tangki cinta anak-anak saya. 

 

Gambar : Cara melatih karakter

  •  Bagaimana perasaan saya setelah mengasah karakter ketiga "I know, I can be better"?

Saya mengasah karakter ini selama tiga hari sejak hari rabu hingga jumat ini. Yang saya rasakan, saya merasa lebih bahagia, merasa lebih baik menata emosi saya, lebih baik mental state saya, lebih merasa teratur dan produktif, saya merasa lebih hadir secara utuh dan mindful ketika membersamai anak-anak dan anak-anak pun lebih nampak lebih ceria dan bahagia dari hari ke hari. 

 

Gambar : Perasaan setelah melatih karakter

  • Apa action saya selanjutnya?

Setelah melatih karakter ketiga selama tiga hari saya melihat sudah nampak kemajuan yang baik dari hari ke hari. Tetapi saya meyakini, karakter ini akan terinternalisasi dalam diri saya jika saya terus melatihnya. Sebab itu saya ingin melanjutkan latihan ini selama 14 hari kedepan. Saya harapkan setelah 14 hari kedepan maka karakter ini akan menjadi sebuah kebiasaan baik bagi diri saya. 

 

Gambar : Action Selanjutnya

 

Sekian tugas misi ke enam dari saya. Semoga bermanfaat bagi diri saya sendiri untuk menjadi jurnal pegangan melakukan refleksi diri. Semoga teman-teman juga merasakan manfaat dari goresan pena yang saya torehkan. Mari bersama-sama menjadi sebaik-baik manusia dengan terus memperbaiki diri setiap hari dan bermanfaat untuk orang lain. 

 

Dibawah ini saya sertakan resume materi di misi ke enam. Semoga apa yang saya tuliskan dalam resume ini tidak mengurangi esensi materi yang disampaikan oleh widya iswara. Semoga bermanfaat ya ^_^

 

Resume Materi Misi 6 Zona 3 

"Karakter Moral Ibu Profesional"

Oleh Nur Khayati

Ibu Profesional Semarang


Zona 3 misi 6 kali ini dengan tema materi "Karakter Moral Ibu Profesional" yang disampaikan oleh Mbak Hamidah Rina Mantiri atau dikenal dengan Mbak Hamidah pada senin, 6 Juni 2022 pukul 20.00 live di FBG Matrikulasi Batch 10.


Materi keenam kali ini, kami penjelajah samudra amarta diajak untuk menyiapkan hidangan kami. Hidangan yang akan kita ramu dan racik sendiri. Sebab, kali ini kita akan mempelajari lima hal dari karakter moral ibu profesional. Mbak Hamidah memaparkan bahwa karakter merupakan ban yang tidak perlu diajarkan dan harusnya juga tidak dimasukkan kurikulum. Lantas, mengapa ada di pos 6 ini membahas berkaitan dengan karakter?


Nah, sebab itulah diawal disampaikan oleh Mbak Hamidah, bahwa beliau tidak memiliki apa-apa untuk dihidangkan melainkan kita akan diajak untuk menyiapkan hidangannya kita sendiri. Mbak Hamidah disini hanya bertugas untuk memperkenalkan apa saja karakter moral yang dimiliki ibu profesional atau mungkin kita pernah mengenal moral knowing. Mbak Hamidah hanya memperkenalkan dan selanjutnya kami yang bertugas memperdalam dan menanamkan karakter moral ibu profesional tersebut ke dalam diri kita. Sehingga akan nampak ciri khas dari ibu profesional dengan komunitas yang lainnya. Ada tiga komponen dalam pembentukan karakter moral yaitu moral knowing, moral reflection dan moral action.


Jika di materi sebelumnya kita pernah mempelajari core values ibu profesional maka begitu pula dengan karakter moral. Karakter moral juga akan menghasilkan value ibu profesional. Dimana karakter moral tersebut diharapkan dapat terinternalisasi dalam diri kita sehingga kita tak perlu memerlukan sebuah perkenalan siapa diri kita, tetapi dengan sendirinya orang lain akan tahu jika kita adalah ibu profesional dengan melihat karakter moral yang kita miliki. Adanya karakter moral ini akan menguatkan core values dari ibu profesional.


Apa saja tahapan dalam hidup seorang perempuan?

→ lahir, bayi, anak kecil, remaja (mengalami haid pertama), dewasa (mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi), bekerja (mandiri secara finansial), menikah (menjadi istri), memiliki anak (menjadi seorang ibu), ketika anak-anak sudah menikah (menjadi ibu mertua dan nenek), mungkin sebelum itu juga memiliki peran di masyarakat dan terakhir meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa sejak lahir hingga akhir hayatnya seorang perempuan menjalankan peran dan misi hidupnya secara berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan karakter moral pertama ibu profesional yaitu "Never stop learning, the mission alive". Artinya perempuan itu tidak pernah berhenti berperan karena misinya selalu hidup. Karakter seorang ibu profesional itu tidak akan pernah berhenti untuk menjalankan misi hidupnya, dengan suka cita bergerak, misinya tidak pernah mati, perannya terus berkembang. Misi ini dimana seluruh ibu akan meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang perempuan, istri dan ibu dimanapun ia berada. Nah, makanya ketika kita masuk ke ibu profesional tidak ada satu peran pun yang kita tinggalkan. Mengutip yang pernah disampaikan oleh Ibu Septi Peni "Jika ada seribu orang ibu yang berjuang untuk pendidikan keluarga maka salah satunya adalah saya. Jika ada seratus  orang ibu yang berjuang untuk pendidikan keluarga maka salah satunya adalah saya juga. Dan jika hanya ada satu ibu yang mau berjuang untuk pendidikan keluarga itu adalah saya".


Ilmu apa saja yang perlu dipelajari oleh seorang perempuan?

→ semua ilmu yang dipelajari seorang perempuan itu sesuai dengan tahapan peran yang ia jalani. Kita ambil contoh ilmu saja misalnya ilmu parenting, bisa dimulai saat seorang perempuan baru melahirkan maka ia akan belajar mengenai menyusui dan ilmu menggendong, saat anak mulai masuk fase makan maka seorang ibu belajar tentang MPASI dan nutrisi anak, belajar tentang tumbuh kembang anak, belajar pendidikan anak usia dini, belajar pendidikan pra aqil baligh, dsb. Dan ini sejalan dengan karakter moral kedua ibu profesional yaitu "Don't teach me, I love to learn". Artinya ibu profesional itu adalah seorang ibu yang senang belajar dan fitrahnya seorang ibu jika beralih peran maka ia akan menyukai untuk belajar dan tidak pernah berhenti belajar sampai mati. Don't teach me artinya bukan tidak mau diajari tetapi berarti bahwa seorang ibu tidak perlu dijejali dan disuapi untuk belajar hanya perlu dipantik saja sebab mereka akan tahu sendiri kebutuhan belajar mereka seperti apa. Sekali lagi karena fitrahnya seorang ibu adalah suka belajar. 


Temukan 10 perbedaan dari gambar yang disajikan.

→ matahari, awan, payung, es krim, topi kang es krim, baju anak laki-laki, baju anak perempuan, sepatu kang es krim, bando anak perempuan, rambut anak laki-laki. 

Bagi seorang perempuan mungkin sangat mudah untuk menemukan perbedaan dari apa yang ia lihat. Tetapi coba cari perbedaan diri anda sendiri yang terjadi dari satu tahun sebelumnya?

Hal ini berkaitan dengan karakter moral yang ketiga yaitu "I know can be better". Jadi seorang ibu profesional itu bertekad menjadi lebih baik dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Ibu profesional selalu mengupgrade dirinya.  Sebab orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang lebih baik dari hari kemarin. Jika ada kegagalan dalam belajar atau tidak mengalami perkembangan atau progress belajar maka kita perlu melakukan evaluasi. Mungkin tentang kesungguhan belajar, tujuan belajar dsb.


Tebak gambar?

→ gambar jam karet

Dari gambar tersebut berkaitan dengan karakter moral ibu profesional yang keempat yaitu "Always on time". Ibu profesional adalah seorang ibu yang selalu menghargai waktu dan berusaha untuk menepati waktu yang telah disepakati. Bukan karena kita takut aturan tetapi karena kita sadar untuk menghargai waktu kita dan waktu orang lain. Disiplin waktu bagi seorang ibu profesional adalah menyepakati waktu yang telah ditentukan sesuai dengan komitmen masing-masing yang dijalankan secara konsisten hingga akhirnya kita menjadi terbiasa. 


Tebak kata?

→ tebak kata dalam bahasa inggris, dari dua gambar tersebut yaitu sharing is caring. Hal ini berkaitan dengan karakter moral yang lima yaitu "sharing is caring". Artinya ibu profesional itu sayang sesama, tidak segan untuk membagikan ilmunya, tidak segan membagikan pengalaman yang sudah dijalankan. Prinsip dalam berbagi informasi yaitu 3 B (Benar : teruji kebenarannya, bukan hoax atau informasi palsu), Baik : Baik sesuai koridor CoC Ibu Profesional, Bermanfaat ( relevan dengan kebutuhan target audience). 


Satu hal yang saya garis bawahi dari materi 6 kali ini adalah memperbaiki diri sendiri dulu secara terus menerus dan jangan pernah takut untuk berbagi. Karena kita tidak pernah tahu hal mana atau hal apa yang kita bagikan yang dapat bermanfaat untuk orang lain.

 

#Zona3

#Misi6 

#karaktermoralibuprofesional

#PenjelajahPelabuhanSamuderaAmarta

#Matrikulasi10

#InstitutIbuProfesional

#IbuprofesionalforIndonesia

#ip4d2022

#womwnincooLABorwtion

 

Best Regards

Nur Khayati

Ibu Profesional Semarang

@nur_khay_

 

 

 

 

Sabtu, 04 Juni 2022

LDM (Long Distance Marriage)

 Pejuang LDM (Long Distance Marriage)

Oleh Nur Khayati



 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengapa memutuskan menikah, jika akhirnya tidak tinggal serumah?
Mengapa memutuskan menikah,  jika akhirnya bukan hidup bersama tetapi justru saling terpisah?
Kodratnya istri itu mengikuti kemanapun suami pergi, mengapa justru memilih tinggal jauh dari suami?
Apakah kalian tidak kasihan sama anak-anak, lantas rela memilih hidup berjauhan?

Apakah materi dan ekonomi jauh lebih penting dari keluarga, lalu kalian memilih menjadi pejuang PJKA?


Ah..lagi-lagi, pertanyaan seperti itu sudah sangat akrab mampir di indera dengarku. Bukan lagi hal yang biasa tetapi aku harus terbiasa menerima. Dan tak perlu menjelaskan lagi pada mereka. Sebab setiap pertanyaan belum tentu butuh jawaban.


Aku dan suami tidak dipertemukan dengan begitu saja. Meski tidak disertai alasan, kebersamaan dalam biduk pernikahan ini telah digariskan. Meski pada akhirnya Dia menetapkan kami untuk hidup saling berjauhan. Menjalani kehidupan perLDMan.


Iya, sejak awal pernikahan kami di tahun dua ribu lima belas hingga kini. Selama itu pula kami menjalani pernikahan jarak jauh atau LDM. Bukan, bukan aku ingin mengatakan jika aku bangga bisa melakoninya. Tetapi ini menjadi bagian dari menerima ketetapan terbaik-Nya.


Bagaimana rasanya menjadi pejuang LDM?Jujur, aku hanya ingin berucap berat. Tetapi bukan berarti aku hebat dan kuat. Sebab berulang kali aku ingin melambaikan tangan. 


Jika ada sebuah pilihan dan itu memungkinkan untuk dijalani, maka sudah tentu seorang istri akan memilih mengikuti suami, kemanapun ia pergi. Namun, tidak semua orang memiliki pilihan dan kesempatan yang sama. Sebab setiap pasangan dan keluarga memiliki kondisi dan kisah cerita yang berbeda.


Melewati hari demi hari tanpa kehadiran fisik suami. Mengurus si buah hati seorang diri. Bahkan tak jarang pula merangkap peran sebagai umi sekaligus abi, saat suami tak dapat hadir mendampingi. Lelah?Oh, tentu pasti. Tetapi bagaimana agar lelah ini berbuah pahala, tentu selalu mencoba untuk ikhlas menerima. Melangitkan syukur atas setiap hal yang sudah Dia beri tanpa batas tepi.


Nyatanya banyak rajutan kisah dan hikmah yang menjadi jalan untuk memperbanyak muhasabah. 

Jarak mengajarkan arti kebersamaan mungkin lalai untuk disyukuri.

Jarak mengajarkan kedewasaan dari fase pernikahan.

Jarak mengajarkan bagaimana menahan rindu dan setia menunggu dalam sebuah sebuah ruang temu.

Jarak mengajarkan bagaimana mendekap langkah dan mendekatkan sela dalam setiap rapalan doa.


Iya, kami menyadari dengan sepenuh hati bahwa keluarga LDM bukanlah kondisi yang ideal atau sempurna. Tetapi kami meyakini bahwa LDM menjadi salah satu ketetapan terbaik dari Sang Maha Pemberi Cinta. Jika LDM adalah bagian dari merasai nikmat cinta dunia, maka Dia akan mampukan kami untuk melakoninya. Semoga suatu saat nanti Dia ijinkan kami, menua bersama dibawah langit yang sama dengan naungan cinta dari-Nya.


*Unggah ulang tulisan saya dari facebook dan instagram



#LDM #LongDistanceMarriage #PejuangLDM #Keluarga #RumahTangga #PJKA











Jumat, 03 Juni 2022

Tentang Kepulangan

Memetik Hikmah dari Makna Kepulangan

Oleh Nur Khayati

Sepekan terakhir jagat maya kita sangat santer memperbincangkan berita hilangnya putra Bapak Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat. Mungkin sebagian besar dari kita tak mengenal sosok Emmeril Kahn Mumtadz atau dikenal dengan Eril. Namun, namanya begitu mencuat bahkan menjadi trending #1 ditwitter. Sosok seorang Bapak Ridwan Kamil sendiri saya hanya sebatas tahu bahwa beliau seorang gubernur, lebih dari itu saya tidak begitu memahami sosok beliau. Tetapi begitu banyak doa dilangitkan dari jutaan orang indonesia bahkan mungkin kolega beliau di luar negeri. 

Lalu bersebab apa?Menurut saya inilah salah satu bentuk empati. Orang tua mana yang tidak akan bersedih saat kehilangan anaknya?Saya kira kehilangan anak adalah salah satu kesedihan terbesar yang dialami oleh setiap orang tua. Saya, yang sesama orang tua rasanya bergetar hati ini melihat bagaimana ikhtiar keluarga Pak RK untuk menemukan Eril. Pak RK yang terkenal periang saat beliau tampil dihadapan publik maupun di sosial media kini dukanya begitu tergambar jelas. Apalagi Ibu Atalia, sosok yang telah berjuang mengandung dan melahirkan tentu hatinya pun sama terkoyaknya.

Awalnya saya tak ingin menuliskan berkaitan berita ini. Tetapi unggahan Ibu Atalia di sosial media tentang surat yang beliau tuliskan, bendungan dari dalam kelopak mata saya akhirnya pecah juga. Melihat foto yang diunggah saja sudah cukup sangat menggambarkan kondisi kepasrahan dan keikhlasan beliau. Bahkan tulisan yang beliau sertakan dalam caption. Ah, jika saya membayangkan berada pada posisi beliau, mungkin saya tak sanggup. 

Ril… mamah pulang dulu ke Indonesia, ya..

Mamah titipkan kamu dalam penjagaan dan perlindungan terbaik dari pemilikmu yang sebenarnya, Allah swt, dimanapun kamu berada…

Insya Allah kamu tidak akan kedinginan, kelaparan atau kekurangan apapun. Bahkan kamu akan mendapatkan limpahan kasih sayang, karunia dan kebahagiaan yang tak pernah putus.

Disini, di sungai Aare yang luar biasa indah dan cantik ini, mamah lepaskan kamu, untuk kita bertemu lagi cepat atau lambat.

Seperti yang pak walikota sampaikan, 

“The city of Bern will forever be deeply connected to us…”

Doa terbaik mamah dalam setiap helaan nafas,

Atalia

Aare river, juni 2022

(Kutipan tulisan Ibu Atalia dalam akun Facebook dan Instagram)

Gambar : Keluarga Pak RK dan Bu Atalia di Tepi Sungai Aaree 

Dari tulisan beliau inilah kemudian saya menuliskan berkaitan berita ini. Iya, dari beliau saya jadi teringat dengan dialog iman tentang kematian dengan si sulung. Kalau tidak salah, saya pernah menuliskan dua kali dalam instagram saya berkaitan dengan kematian. 


Boleh dibuka link tulisan pertama :

https://www.instagram.com/p/CTj1TkbBgRY/?igshid=YmMyMTA2M2Y=

 Di dalam tulisan ini, ada dialog saya dengan si sulung mengenai kematian. Ia bertanya apa itu meninggal?kenapa orang bisa meninggal?kalau kita meninggal, Mas masih bisa ketemu ummi dan abi tidak?

Boleh dibuka link tulisan kedua :

https://www.instagram.com/p/CXLWlAfBLjA/?igshid=YmMyMTA2M2Y=

Di dalam tulisan ini, kembali ada dialog tentang kematian dengan si sulung. Ia bertanya kapan kita meninggal.

 

Iya, sejatinya sebuah 'kepulangan' pada Sang Maha Pemilik Kehidupan adalah sebuah kepastian. Tetapi ia bukan sebuah siklus yang tidak dapat dipastikan kapan akan tiba waktunya.

Siapa yang dapat dari lari sebuah kematian?Sebab setiap orang sudah memiliki kalendernya masing-masing yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Kita hanya sedang menunggu kapan waktu itu tiba dipergilirkan pada kita.

Sebuah kematian tak mengenal usia, waktu dan tepat. Entah ia seorang bayi, balita, remaja, dewasa atau lansia sudah pasti akan mengalaminya bukan?

Lantas sudah siapkah kita?

Sudah sesiap apakah kita menerima takdir-Nya yang sudah pasti ini?

Bekal apakah yang akan kita bawa dalam perjalanan abadi di akhirat kelak?

Lantas, sudah siapkah kita jika harus mengalami perpisahan haqiqi dengan orang-orang tercinta?

Sudah siapkah kita jika yang sejatinya memiliki akan mengambilnya kembali?

Ah, rasanya baik sebentar atau lama kebersamaan kita dengan orang-orang tercinta, tetap akan terasa berat untuk menerimanya bukan?

Dan..Iya, sebaik-baik nasihat adalah sebuah kematian. Maka persiapkan perbekalan kita dengan amal kebaikan. Meminta pada-Nya agar kita dipertemukan kembali dengan orang-orang yang kita kasihi dalam jannah-Nya.

Kembali pada keluarga Pak RK dan Bu Atalia…

Kita dapat belajar dari beliau, bagaimana dengan tabah dan ikhlas menerima ketetapan terbaik-Nya. 

Kehilangan seorang anak tentu menyisakan luka yang menganga dan tak dapat tergantikan. Bahkan sakitnya seorang Ibu Atalia tak akan bisa dilukiskan dengan apapun. Tetapi beliau memasrahkan dengan begitu tegar pada Sang Pemilik Hamba-Nya.

Pak RK dan Bu Atalia, saya yakin bapak dan ibu adalah orang terpilih dari Allah yang diberikan ujian ini untuk meninggikan derajat bapak dan ibu. 

Pak RK dan Bu Atalia, kami dengan tulus mendoakan dengan penuh ketulusan semoga keluarga Bapak dan Ibu diberikan kekuatan dan ketabahan untuk menjalani hari-hari berikutnya.

InsyaAllah Ananda Eril khusnul khotimah dan mendapat tempat terbaik disisi-Nya.

 

#DoaUntukEril #Eril #RidwanKamil #Sungai Aaree #Swiss

 

Best Regards

 

Nur Khayati

@nur_khay_






Kamis, 02 Juni 2022

Zona 3 Main Course Misi 5 : Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

 Resume Materi

 Zona 3 Main Course Misi 5
"Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga"

Oleh Nur Khayati
Ibu Profesional Semarang


Alhamdulillah bini'matihi tatimush shalihat

Puji syukur kehadiran Allah SWT, Rabb semesta alam ini yang masih mengizinkan saya untuk menimba ilmu dalam kelas matrikulasi batch 10, hingga sudah mencapai tahap ini yaitu zona 3 di misi ke 5.

Zona 3 misi 5 kali ini dengan tema materi "Ibu Profesional Kebanggan Keluarga" yang disampaikan oleh Mbak Rusna Meswari atau dikenal dengan Mbak Una pada senin, 30 Mei 2022 pukul 20.00 live di FBG Matrikulasi Batch 10.

Pemaparan materi diawali Mbak Una dengan penggalan puisi dari kahlil Gibran

"Anakmu bukan milikmu, ia adalah milik zamannya, boleh kau berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak untuk jiwanya karena jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam impian". 

Puisi yang amat menyentuh dan mengena bagi saya. Iya, sebab itulah tugas kita adalah mendidik dan mengasuh mereka dengan penuh cinta dan bahagia agar ia berkembang sesuai fitrahNya. Seperti yang pernah disampaikan oleh Bu Septi Peni "Jatuh bangunnya peradaban dan sebuah bangsa tergantung pada perempuannya". Iya, bahwa saya diri kita harus memahami bagaimana peran kita baik sebagai seorang istri maupun seorang ibu. Hingga kita kelak menjadi ibu profesional kebanggan keluarga.

Ada empat garis besar pelajaran yang akan kita pelajari dalam materi ini yaitu

  1. Makna ibu profesional kebanggan keluarga profesional
  2. Memahami bagaimana keluarga (terutama ayah dan ibu) sebagai bagian dari peradaban dunia
  3. Memahami 4 kebutuhan dasar menjadi orang tua
  4. Visi dan misi dalam komunitas ibu profesional

Penjabaran :

Makna ibu profesional kebanggan keluarga profesional

Sebetulnya makna ibu profesional sudah tertuang dalam core values ibu profesional yaitu ibu yang tidak berhenti untuk belajar dan berkembang lalu mau berkarya dan berbagi untuk orang kain serta berdampak bagi lingkungan sekitarnya. Dalam KBBI, arti profesional adalah sungguh-sungguh maka seorang ibu profesional adalah yang mau disiplin dan memerlukan kepandaian khusus dalam proses menjalankannya. Jadi ibu profesional adalah seorang perempuan yang bangga akan perannya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya serta memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh menjalankan perannya untuk mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik. Maka temukan value kita, temukan passion kita dan temukan bahagia kita sebab dengan diri kita bahagia maka seisi rumah dalam keluarga kita akan tumbuh dengan bahagia.

Memahami bagaimana keluarga (terutama ayah dan ibu) sebagai bagian dari peradaban dunia

Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya. Hal ini bisa kita ibaratkan seperti barang-barang elektronik di rumah kita atau bahkan rumah yang kita tinggali saat ini. Benda-benda mati tersebut memiliki design yang luar biasa agar bisa kita manfaatkan dengan baik. Bagaimana dengan kehidupan kita?keluarga kita?Kita dan keluarga kita adalah benda hidup maka sudah seharusnya juga harus memiliki design. Karena keluarga adalah awal mula dari sebuah peradaban dibangun. Membangun peradaban dari dalam rumah maka kita akan menemukan peran peradaban kita dari mulai individu kita atau diri kita sendiri. Jika diri kita sehat dan bahagia maka kita mampu mendorong anak-anak kita untuk menemukan peran peradabannya. Selain itu juga dapat mensupport dan hadir utuh untuk suami kita.

Tiga mantra ibu profesional

1. Ngobrol bareng

Bersama-sama menyusun value keluarga. Sampaikan peta belajar kita. Lalu membuat komitmen bersama.

2. Main bareng

Membuat project bersama sehingga kita akan menemukan stylenya dan menemukan keselarasan.

3. Diskusi bareng 

Latihan untuk melakukan refleksi diri dan keluarga yang dilakukan secara kontinyu dan konsisten.


Memahami 4 kebutuhan dasar menjadi orang tua

1. Mengelola mental state

Hal ini merupakan salah satu hal penting untuk menyelaraskan pikiran, perasaan dan tindakan agar kita dapat mengelola emosi kita.

2. Komunikasi sebaya

Tidak hanya dengan komunikasi asertif tetapi disesuaikan juga bagaimana intonasinya, eye contact, nadanya. Maka latihlah terus teknik komunikasi tersebut.

3. Memperbarui status

Belajar aneka ragam keterampilan untuk updating status untuk mengupgrade diri kita sebab perkembangan zaman saat ini begitu cepat. Sesuaikan upgrade ilmu kita dengan visi misi atau goals keluarga kita. 

4. Apresiasi bukan evaluasi

Lakukanlah apresiasi untuk melihat hasil sebuah kerja/karya kita sekecil apapun hasil yang telah dicapai. Sebab memberikan apresiasi adalah salah satu langkah kita untuk kedepan melihat progress atau perkembangan yang sudah kita capai.


Visi dan misi dalam komunitas ibu profesional

Visi : Menjadi komunitas pendidikan perempuan indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban negara dari dalam internal keluarga.

Misi : 

  1. Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
  3. Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya dimuka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, anak dan keluarga tetap menjadi prioritas utama.
  4. Meningkatkan peran ibu sebagai "change agent" (agen pembawa perubahan) sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

Terakhir yang saya garis bawahi dari penyampaian Mbak Una bahwa jalani peran kita sebagai seorang perempuan, seorang istri dan ibu dengan penuh bahagia. Bahagia tidak berarti semua berjalan dengan mulus dan benar tetapi jadikan setiap ujian dan tantangan yang hadir dalam hidup kita untuk kita selesaikan dengan ilmu yang sudah kita miliki. Maka jadilah Ibu yang selalu mengupgrade diri dengan ilmu dan bermanfaat untuk banyak orang.

 

Tugas Misi 5

 "Ibu Profesional Kebanggan Keluarga"

Oleh Nur Khayati
Ibu Profesional Semarang


Selanjutnya kami, para penjelajah samudera amarta diberikan tugas untuk menyelesaikan misi ke lima yaitu menemukan arti ibu profesional menurut diri sendiri, menurut circle terdekat (suami dan anak) dan membuat indikator keberhasilan seorang ibu profesional.

Makna ibu profesional menurut diri saya pribadi :

  • Ibu yang bersungguh-sungguh dan mampu menempatkan posisi dan perannya secara proporsional
  • Ibu yang memiliki semangat belajar dimanapun dan kapanpun tanpa mengenal batas waktu, usia ataupun tempat
  • Ibu yang bangga dengan perannya dan senantiasa mengupgrade ilmu sebagai bekal untuk menjalani perannya dengan bahagia
  • Ibu yang dengan sungguh-sungguh mau berkembang sesuai dengan passion yang ia miliki agar ia mampu berkarya dan bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya.
  • Ibu yang dengan sungguh-sungguh mau belajar untuk mengelola emosi dan manajemen waktu yang ia miliki
  • Ibu yang mampu mendidik, mengasuh dan mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya dengan bahagia
  • Ibu yang mampu mendukung suaminya untuk tetap dalam kebaikan.

Gambar : Makna Ibu Profesional Menurut Saya Pribadi


Makna ibu profesional dari circle terdekat saya saat ini yaitu suami dan anak. Awalnya tidak mudah bagi kami yang menjalani LDM sejak awal pernikahan hingga saat ini. Saat akan mengerjakan tugas ini pun awalnya saya gamang. Sebab butuh face to face untuk mendapatkan hasil diskusi secara gamblang. Biasanya kami memiliki waktu diskusi disaat suami libur yaitu saat akhir pekan. Alhamdulillah, hari rabu kemarin hari libur sehingga saya dan suami dapat menyempatkan dan meluangkan diskusi lebih dari satu jam melalui sambungan telepon.

Obrolan saya awali dengan menanyakan ke beliau "Apakah beliau bahagia dengan saya sebagai istrinya?Hal apa yang perlu saya perbaiki agar beliau bahagia dengan saya?". Membahas ini saja butuh waktu lebih dari 30 menit ternyata..hahaha 😆 tetapi cukup memuaskan karena kami dapat saling melakukan refleksi diri dan peran kami.

Lalu diskusi berlanjut tentang makna ibu profesional. Menurut suami saya makna ibu profesional akan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang karena mereka memiliki latar belakang pendidikan maupun sudut pandang yang dilihat.

Beliau mengawali diskusi ini dengan arti ibu yang sukses versi secara umum. Ibu yang sukses adalah ibu yang mampu membuat suami dan anak-anaknya bahagia, ibu yang mampu mendukung suami maupun anak untuk memaksimal perannya, ibu yang mampu mendidik dan membuat anaknya tumbuh dan berkembang secara maksimal. Namun, ada sebagian orang yang dapat lebih sukses lagi sebagai seorang ibu ketika ia mampu menjalankan peran utama tersebut tetapi ia juga menjalankan peran pendukungnya sebagai seorang ibu secara bersamaan. Beliau mengambil contoh seperti Oki Setiana Dewi, Nagita Slavina, Ibu Netty Heryawan. Mereka adalah sebagian contoh ibu yang sukses secara duniawi, mereka tidak mengesampingkan kewajiban atau peran utama mereka sebagai seorang ibu dan istri tetapi mereka juga berkembang dan bermanfaat untuk orang lain.

Makna ibu profesional menurut suami saya yaitu

  • Ibu yang mampu menjaga kehormatan suami
  • Ibu yang mampu menjadi madrasah bagi anak-anaknya seperti mengenalkan tentang Tuhannya, mengenalkan adab, menjaga fitrah kebaikan seorang anak.
  • Ibu yang mendukung suami dalam kebaikan agar peran dan kebaikannya maksimal dan dirasakan tidak hanya untuk keluarga tetapi juga untuk orang-orang disekitarnya
  • Ibu yang mampu menyeimbangkan peran utamanya untuk mendidik anak dan mendukung suaminya tetapi juga dapat bermanfaat untuk orang lain minimal kehadirannya tidak mengganggu orang lain.
  • Ibu baik itu seorang ibu rumah tangga atau ibu berkarir yang tidak hanya memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu tetapi juga kewajiban untuk pemenuhan haknya sendiri yaitu mengelola dirinya agar mampu tumbuh dan berkembang
  • Ibu yang tidak berhenti untuk belajar dan memiliki ruang untuk mengembangkan diri
  • Ibu yang mampu menjalankan peran utama (istri dan ibu) dan peran pendukungnya (peran untuk tumbuh dan berkembang serta bermanfaat) secara bersamaan

Gambar : Makna Ibu Profesional Menurut Suami

Selanjutnya saya bertanya pada si sulung yang usianya baru 5,5 tahun. Ketika saya tanya "Mas, Mas senang atau suka kalau Ummi itu seperti apa?Atau Mas suka kalau Ummi gimana?"

Ah, jawaban dari mulut mungilnya cukup menggelikan tetapi juga sekaligus menjadi tamparan untuk saya.

🧒:"Mas itu suka kalau ummi ajak main bareng sama ummi sama adik juga. Mas suka kalau diajak bikin mainan bareng sama ummi. Mas suka kalau dimasakin sama ummi dan diajak ummi masak. Mas suka diajak sepedaan sama ummi. Mas suka kalau dibacakan buku sama ummi".

🧕: "Trus Mas nggak suka kalau ummi gimana?"

🧒 : "Mas nggak suka kalau ummi lagi marah. Mas jadi sedih. Allah kan nggak suka sama orang yang marah ummi. Nanti kita nggak disayang Allah"

🧕: "Oh. gtu..trus kalau pas ummi marah, Mas sukanya ummi harus gimana?"

🧒 : "Kalau ummi marah, Mas maunya ummi minta maaf sama Mas"

🧕: "MasyaAllah..maafin ummi yah Mas kalau ummi kadang marah"

lalu kita saling berpelukan dan meminta maaf. Meleleh rasanya Nak..maafkan ummi yah Mas..kita tumbuh bersama yah Mas ❤️

Gambar : Makna Ibu Profesional dari si sulung saya

 

 Indikator keberhasilan seorang ibu profesional :

  1. Memenuhi hak anak-anak untuk mengasuh, mendidik dan menjaga fitrah kebaikan yang ada pada diri mereka
  2. Mendukung penuh suami dalam kebaikan dan menjalankan perannya sebagai seorang suami dan ayah
  3. Menjaga kehormatan suami 
  4. Memiliki semangat belajar tinggi untuk mengupgrade diri
  5. Mampu menjalan peran utama dan peran pendukung sebagai secara seimbang
  6. Berkembang sesuai dengan passion yang diinginkan
  7. Hadir secara utuh untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anak 
  8. Mengelola emosi dengan baik, inhale dan exhale saat ada terjangan badai emosi
  9. Memanajemen waktu dengan baik, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi usahakan membuat time log yang baik dan teratur
  10. Bangga dan bahagia menjalankan peran utama sebagai seorang istri dan ibu
  11. Berdaulat penuh atas dirinya sendiri
  12. Mampu bersyukur dalam setiap kondisi (membuat jurnal syukur)

Gambar : Indikator Keberhasilan Ibu Profesional Versi Saya


Akhirnya sampai di akhir tugas misi ke lima. Saya menyadari bahwa saya masih banyak kekurangan. Tetapi melalui tulisan yang saya tuangkan dalam jurnal ini, setidaknya menjadi langkah awal bagi saya untuk refleksi diri dan menjadi pegangan bagi saya untuk menapaki langkah selanjutnya. Semoga Allah meridhoi dan mengijabah setiap harapan doa yang dilangitkan. Aamiin 🤲🏻


Best Regards


Nur Khayati 

Ibu Profesional Semarang

Instagram : @nur_khay_

Facebook : Nur Khayati










Zona 1 Pelabuhan Pulau Harmoni Misi 2 : Bahagia Belajar dan Critical Thingking

 Tugas Misi 2

Ini bekalku, Mana Bekalmu
Oleh Nur Khayati

IP Semarang


Menyelam kedalam samudra amarta, menurutku layaknya sebuah perjalanan menjadi seorang istri dan ibu. Samudra ibarat kawah candra dimukanya seorang ibu. Tentu saat proses perjalanan menyelaminya tidaklah mulus dan mudah. Ada badai besar yang mungkin jauh di depan sana sudah menanti dan siap meluluhlantakkan kapalselamku. Ada ombak yang sudah pasti tak selamanya ia akan bersahabat. Sesekali gelombang ombaknya akan meninggi dan menggoyahkan. Iya, begitu pula perjalanan menjadi seorang istri dan ibu. Setiap masalah yang hadir menyapa kita adalah sebuah tantangan dan pembelajaran yang menjadikan diri  lebih baik dan memaksimalkan peran kita. 


Lantas, haruskan kita meratapinya atau bahkan menjadi tidak bahagia?Oh, tentu tidak bukan?Iya, sebab bahagia itu tidak perlu menunggu. Mengutip sebuah kalimat yang pernah disampaikan oleh Bu Septi Peni bahwa bahagia itu kita yang menciptakan. Kebahagiaan itu tidak bergantung pada orang lain. Tetapi diri kita yang berhak menciptakan.


Maka dari itu untuk menjadi bahagia saat penyelaman samudra amarta nanti, maka aku sudah mempersiapkan perbekalan. Sehingga saat masalah itu hadir didepan mata, aku tidak lagi mengeluh tetapi menjadikan masalah sebagai sebuah tantangan. Sebab inilah ladang belajar bagiku. Lalu, apa bekalku?


Pertama, Manajemen Waktu

Setiap dari kita memiliki modal waktu yang sama yaitu 24 jam. Sebab itulah sangat penting bagiku untuk memanajemen modal waktu yang telah ada agar waktu yang saya miliki produktif. Termasuk dalam mengelola waktu saya untuk suami, anak, keluarga, masyarakat dan mengerjakan setiap challenge yang diberikan dalam penyelaman samudra amarta.


Kedua, Manajemen Prioritas

Saya meyakini, setelah kita menjadi seorang ibu seolah pekerjaan domestik itu tidak pernah ada habisnya. Ia mengantri begitu panjang untuk disentuh oleh tangan kita. Karena itulah manajemen prioritas disini juga menjadi bekal yang penting bagiku saat penyelaman nanti. Memetakan mana pekerjaan penting untuk saya kerjakan terlebih dahulu tanpa mengesampingkan peran saya sebagai seorang istri dan ibu dan juga tugas-tugas selama penyelaman.


Ketiga, Komitmen dan Konsistensi

Saat penyelaman samudra amarta nanti aku harus mengikuti prosedur yang sudah disiapkan oleh para baruna. Komitmen dan konsistensi untuk menyelesaikan setiap challenge dan bekerja sama dengan bestie. Lalu mengatur strategi jika ada perubahan. 


Keempat, Berdaulat penuh atas setiap keputusan yang diambil.

Setiap kemungkinan gagal itu pasti ada meskipun kita sudah merencanakan sebaik mungkin. Jika nanti aku gagal dalam penyelaman samudra amarta, maka aku tidak akan menyalahkan siapapun. Aku tidak akan menyalahkan kondisi, bestie, baruna atau bahkan keluarga. Diriku yang bertanggung penuh atas setiap keputusan yang diambil.


Kelima, Selebrasi dan Apresiasi.

Seorang perempuan itu sangat menyukai apresiasi dan aku termasuk salah satunya. Namun, menyukai apresiasi bukan berarti aku gila sanjungan. Tetapi apresiasi menjadi salah satu cara untuk menciptakan bahagia kita. Maka dari itu, aku harus mampu menciptakan selebrasi untuk setiap prestasi yang aku miliki, sekecil apapun prestasi itu. Misalnya saja dengan makan es krim saat aku mampu menyelesaikan challenge dalam penyelaman samudra amarta nantinya.


Setelah aku analisis menggunakan teknik 3B dan disesuaikan dengan CoC IP, menurutku bekal ini sudah sesuai.

  • Baik

Sesuai dengan kondisi dan apa yang saya butuhkan untuk menyelam samudra amarta.

  • Benar

InsyaAllah sudah benar sesuai dengan diri saya dan CoC IP

  • Bermanfaat

InsyaAllah manfaat ini akan saya rasakan sendiri dan kelak untuk orang lain yang ada disekitar saya


Nah, itulah bekal bahagiaku untuk menyelami samudra amarta. Bagaimana dengan bekal teman-teman matrikulasi batch 10?


Semoga Allah berikan kemudahan sampai akhir misi yah teman-teman. 




Best Regards



Nur Khayati

Ibu Profesional Semarang

Instagram: @nur_khay_

Facebook : Nur Khayati




Zona 2 Appetizer Misi 3 : Merdeka Belajar

 Tugas Misi 3 : Peta Belajar

Oleh Nur Khayati
Ibu Profesional Semarang


Ibu Rumah Tangga, istilah yang sudah sangat akrab mampir dalam indera dengar kita bukan?Lantas hal apa yang terlintas dibenak teman-teman saat mendengar istilah tersebut?


Ibu berdaster yang kucel, kudet atau kurang update informasi, pengangguran, wanita yang lekat dengan pekerjaan sumur, dapur dan kasur?Istri yang hanya bisa meminta dan bergantung pada suami? hmmm...Masih adakah lagi?


Ah, rasanya menjadi seorang ibu rumah tangga sangat lekat sekali dengan stigma negatif bukan?Apalagi jika ia seseorang dengan gelar sarjana tinggi dan perguruan tinggi ternama. Tetap saja mereka akan memandang sebelah mata. Atau jika dulunya ia adalah seseorang yang aktif di berbagai aktivitas dan organisasi kampus laku sekarang ia memutuskan dirumah saja menjadi ibu rumah tangga. Aduhai, apa kata netizen diluar sana. Cibiran dan nyinyiran pada ibu rumah tangga mungkin sangat mengalir deras. 


Tak dipungkiri, stigma negatif yang melekat tersebut acapkali membuat ibu rumah tangga menjadi insecure dan tidak bahagia. Padahal seorang istri  dan ibu adalah jantung bagi sebuah rumah. Bayangkan jika jantung itu berhenti berdetak bersebab ia tidak bahagia. Sudah tentu ranum kebahagiaan dalam rumah tersebut akan pudar. 


Berlatar belakang hal tersebutlah saya memiliki tujuan ingin menjadi Ibu Rumah Tangga yang produktif sesuai passion saya. Passion inilah yang akan menjadi wasilah untuk menciptakan kebahagiaan bagi diri saya. Sebab passion ibarat mesin bahan bakar yang mendorong mesin kebahagiaan saya bekerja. 


Menjadi seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) produktif tentu harus memiliki peta belajar yang jelas agar kita belajar dengan tuntas. Peta belajar akan menjadi jalan refleksi diri bagi saya, apakah saya sudah benar-benar produktif menjadi seorang IRT. 


Mengutip materi yang disampaikan oleh Mbak Lulu di zona appetizer, bahwa peta belajar ini akan menjadi petunjuk dan pegangan bagi kita untuk merdeka belajar. Belajar tanpa tuntutan dan menyesuaikan dengan kebutuhan dari diri kita.


Bagaimana peta belajar yang sudah saya buat?Silakan bisa di simak dari mindmap yah (gambar paling bawah).


Sebetulnya saya memiliki beberapa tujuan yang ingin saya capai di tahun 2022 ini. Akan tetapi dalam peta belajar ini hanya saya fokuskan untuk menuliskan satu tujuan berkaitan dengan kegiatan menulis. Iya, menulis adalah salah satu passion saya. Melalui tulisan saya dapat mengalirkan segala rasa dan asa yang saya miliki. Nah, agar tulisan saya bermanfaat dan saya produktif menulis maka saya berkeinginan untuk menulis buku Solo. Untuk dapat menulis buku solo tentu banyak tangga belajar yang harus saya lalui. Sebab menulis buku solo bukanlah hal yang instan. Untuk tahun 2022 saya fokuskan untuk menulis buku tentang jurnal bermain dan belajar bersama kedua anak saya. Saya menargetkan akhir tahun 2022 proses belajar saya mengenai buku jurnal ini sudah selesai dan buku ini bisa launching bersamaan dengan wisuda member KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional).


Cara apa apa saja yang saya lakukan untuk menuntaskan proses belajar menulis buku jurnal bermain dan belajar anak ini yaitu

  1. Mengikuti kelas jurnal homeschooling anak usia dini

  2. Aktif menulis dan share ide bermain anak di berbagai platform seperti google docs/blog pribadi/sosial media yang saya miliki

  3. Mengikuti kelas membuat lesson plan (awal januari kemarin) dan aktif membuat lesson plan untuk anak-anak di setiap pekannya

  4. Mencari dan membuat ide bermain setiap hari

  5. Ikut dan aktif dalam komunitas menulis 

  6. Ikut dan aktif dalam kelas parenting dan homeschooling anak usia dini


Sumber belajar yang bisa saya gunakan yaitu

  1. Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP)

  2. Kelas Homeschooling anak usia dini dan kelas parenting dari Rumah Inspirasi

  3. Sosial media tentang ide bermain anak

  4. Pinterest

  5. Web/blog parenting


Untuk menulis buku solo tentang cerita anak islami, tidak saya petakan secara detail di dalam mind map. Karena ini masih menjadi target jangka panjang di tahun 2023. Hanya saja saya akan fokus untuk tetap konsisten menulis di berbagai platform seperti google docs/blog pribadi/sosial media yang saya miliki.


Jika dianalisa memakai 3 B, insyaAllah peta belajar saya sudah sesuai yaitu

  1. Baik

Menurut saya sudah baik, sebab peta belajar ini menjadi jalan bagi saya untuk menjadi IRT yang produktif.

  1. Benar

InsyaAllah sudah benar, sesuai dengan kebutuhan diri saya dan tentunya mendapat izin dan ridho dari suami.

  1. Bermanfaat

InsyaAllah peta belajar ini juga tidak hanya bermanfaat untuk diri saya tetapi menjadi tahapan bagi saya untuk dapat bermanfaat bagi orang lain melalui karya tulisan saya.


Baiklah teman-teman, mungkin itu sekelumit peta belajar dari saya. Semoga kita bisa lulus bersama ya..semangat juga untuk bestie saya, kita saling berpegangan yah Mba Vera..InsyaAllah kita lulus bersama ❤️


Semoga Bermanfaat…


Best Regards




Nur Khayati

Ibu Profesional Semarang

Instagram : @nur_khay_

Facebook : Nur Khayati

 




Tahap Kupu - Kupu : Pekan 7

Tahap Kupu - Kupu : Pekan 7 Bismillahirrohmanirrohim... Nama : Nur Khayati Regu   : 10 Mikoriza Regional : Semarang Alhamdulillah bini'm...